Proses Datangnya Jodohku

Proses Datangnya Jodohku
Dia datang saat diriku sudah siap, insya Allah siap hadapi apapun lbh memasrahkan diri dengan apapun keputusanNya mau jd nikah apa nggak pokoknya pasrah bgt deh kmrn, jalanin aja step by step ta’arufnya person to person, family to family, yg pasti aku lbh memberanikan diri baik mengutarakan apa saja prinsip2ku, planning2 long term aku, sampe biaya2 yg kudu disiapin buat kehidupan anak2 nanti itu nomor satu yg aku sampaikan sebelum ngomongin biaya buat nikah, krn itu tujuan utama menikah kan membangun rumah tangga walaupun sudah ada jg plan financial for wedding, tp buatku yg lebih penting adalah hal setelah nikah nanti. Dan menikah melalui proses ta’aruf ini benar2 baik buat aku, karena kita bisa menyampaikan semua kebaikan dan keburukan kita menyampaikan apa2 saja impian kita dengan jujur klo diawal sudah tidak ada kecocokan antara visi dan misi proses bisa lgsg dihentikan saat itu tanpa harus ada yang merasa tersakiti dan tidak buang2 waktu, dan aku percaya akan adanya istilah cinta itu ditumbuhkan bukan dicari…

*Noted planning financial ini sudah aku buat jauh sebelum bertemu dng suamiku ini buat pegangan sendiri, awalnya sih buat ngatur uang sendiri waktu kerja dulu ngatur uang buat hidup sebagai anak kos2an, ngatur uang buat bayar kuliah lanjutan, ngatur buat yg lain sebagainya utk yg punya hak didalamnya jg…
Emang dasarnya suka ngatur2 kali yaa jd mumpung masih nyambung yaa dibuatlah sekalian plan financial long termnya mulai buat kebutuhan sendiri sampai punya anak nanti pdhl waktu itu blm tau siapa yg mau jd ayahnya anak2ku nanti 😅
Dan perhitungannya pun sudah disesuaikan dengan perkiraan kenaikan inflasi per tahunnya. *efek belajar soal investasi dan pengalaman Forum Group Discussion (FGD) bahas studi kasus saat interview di salah satu bank utk produk asuransi dan karena jadi tahu dasar2 asuransi akhirnya saya memutuskan tidak mengambil peluang kerja itu pdhl udah tinggal nego salary dan tidak menggunakan produk asuransi mandiri klo dpt dari perusahaan mah oke2 aja😅
Krn menurut saya lebih baik berinvestasi, memang ada plus minusnya sih. Plusnya ga usah pusing2 ngitung misah2in uang buat kesehatan minusnya yaa jng kaget klo tiba2 berurusan dengan RS biayanya lumayan bgt… tp drpd ikut asuransi yg ga semua penyakit jg ditanggung, aplg saya yg punya penyakit bawaan dr kecil jarang ada yg nanggung jadilah sy tidak berminat sama sekali ikut asuransi..
Dan serahkan saja semuanya sm Allah, Allah adalah sebaik2 pemberi asuransi dalam hidup…

Balik lg ke plan financial, waktu buatnya juga kaget sendiri angkanya gilaa krn perhitungan tiap tahun naik sampai menyentuh angka ratusan juta, tp yahh namanya jg forecast, perencanaan siapa yg tahu…
Uang puluhan ribu yg dulu jamannya ortu kita bisa buat beli apa aja skrg pun nilainya jg berbeda paling cm buat beli gorengan bang 10rb! Iyaa kan hehe…

Nah yg buat aku terpesona sm calon suamiku saat itu adalah respon dia saat aku berikan plan financial itu, tidak menertawakan, tidak mengucilkan, tidak menolak mentah2 angka yg sdh aku buat pdhl aku sendiri liatnya pusiang apa bener itu hitungan yg sudah dibuat…
Saya buat perhitungan untuk hidup dengan 3 orang anak, dan respon dia sangat diluar dugaan
M: ini bener hitungan untuk 3 anak?
I: iyaa, knp kebanyakan yaa? Angkanya besar sekali yaa? Klo anaknya mau 2 aja jg gpp…
M: nggak kuq, emang km cm mau punya 3 anak aja? Nggak mau lebih? Banyak anak banyak rezeki loh…
I: what? *nelen ludah, nahan ketawa, nahan haru, dan aku benar2 dibuatnya jatuh… aku jatuh cinta kepadanya ahayyy…

Cara dia merespon segala yg aku utarakan kepadanya, yg aku utarakan secara tegas dan lugas itu benar2 buat aku meleleh…
Karena buat aku positif thinking itu nomor satu, selanjutnya ikhtiar, dan serahkan semua kepadaNya…
Dan buat target itu penting sama halnya dengan kita harus tau apa tujuan hidup ini…

Selanjutnya tahap keluarga baik keluarga aku atau keluarga dia, untuk 1 ini aku pasraahhh bgt terserah keputusanku ada ditangan keluargaku kalau mereka menerima aku jg nerima krn 70% aku sendiri sudah menerima dia dan bukan hanya keluarga inti saja tp keluarga besar, klo 30%nya ini gagal ya sudah gagal semua, tp lagi2 aku dibuat jatuh olehnya…
Saat dia harus menghadapi keluarga besarku aku yg deg2an setengah mati apa bisa yaa dia ngadepin mereka, apa bisa dia jawab pertanyaan2 yg diajukan..

 Alhamdulillah suamiku bisa melewati semua, aku sih cm nemenin di belakangnya aja dlm hati supportnya (ayoo km bisa, ayoo km bisa) dan disitu mulai muncul benih2 rasa yakin, rasa ingin menghormatinya, rasa aman, nyaman dan tenang kalo bisa disampingnya krn dia sudah berjuang…
Karena menikah bukanlah sekedar rasa cinta2an, rasa sayang2an, menikah adalah harus tau masing2 hak dan kewajibannya aku sebagai istri dan suami sebagai Kepala Rumah Tangga.
Kami juga berusaha untuk tidak kalah dengan hal yang remeh temeh. Karena dari dulu aku juga tidak setuju dengan istilah “terima aku apa adanya” aku pun bilang padanya “jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu biar kita terus jalan ke depan, belajar dan terus maju” aku sendiri tidak mau terjebak dng kata2 terima aku apa adanya, berbeda dengan qonaah yaa itu harus ada dan ditanam dalam diri menerima apa yg sudah kita dapat dan mensyukurinya. Kata terima apa adanya menurutku hanya untuk orang2 pesimis yang takut akan masa depan, tidak mau berjuang untuk hidupnya sendiri. Sudah seharusnya kita terus mengupgrade diri, karena itu sudah perintah dari sang Maha Pencipta bagi kaum yang berpikir…

Dan semua terjadi begitu saja sangat cepat prosesnya, persiapan pernikahan yg singkat tp santai menghadapinya pdhl itu adalah hal besar yg sdh lama ditunggu2…
Tp aku gmw pusing dengan perintilan2 persiapan pernikahan gmw ambil pusing tepatnya yg aku pikirkan malah gmn nanti setelah nikah, aku benar2 sudah mau berpisah dengan ortuku, hak asuh ortuku akan berpindah ke tangan suamiku nanti, apa bs aku jd seorang istri yg baik, apa bs aku taat sm orang yg tidak punya hub darah sama sekali denganku ini, apa bisa aku melayaninya dg sepenuh hati…
Sambil terus berjalan aku pelajari terus semuanya sampai urusan cuci baju, gosok, masak dan pekerjaan rumah lainnya hal yg ga pnh aku kerjain sendiri sebelumnya skrg aku harus bisa ngerjain sendiri…
Tp suamiku memang hebat dia terus memandu dan membimbing aku dengan sabar, mulai dari saat proses ta’aruf sampai saat ini aku benar2 dipandu olehnya…

I love you so much suamiku, dan ternyata huhuhu kurang lebih wataknya jg sama kayak aku ini, kadang klo ada sesuatu hal perilaku yg nyebelin aja misalnya aku berasa kayak ngaca di cermin aku kan jg kayak gitu yaa atau hal positif lainnya…

Yaa jodoh itu cerminan diri kita sendiri, dan aku bahagia bertemu dan bersatu denganmu mas…
I love you so much mas Wawang😙

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s